Friday, March 8, 2013

Persaingan perdagangan antara Indonesia dan china di tahun 2014



Darel Akhir Syawal  ( 21212717 )
1EB06
Tugas Perekonomian Indonesia #

 

Sejak disepakatinya perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) dimulai tanggal 1 Januari 2010, produk jadi dari China membanjiri pasar domestik. Kawasan perdagangan baru mulai bermunculan dan kawasan perdagangan lama juga ikut ramai. Organisasi Perdagangan Dunia mengatakan, setidaknya sekitar 400 kawasan perdagangan beroperasi pada tahun 2010. Hal ini menjadikan langkah awal menuju perdagangan global liberalisasi yang luas.

Selain itu, China yang memiliki penduduk sekitar 1,4 miliar jiwa dan daerah yang sangat luas menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan industri dan perdagangan. China seolah menjadi harapan besar untuk mendongkrak omzet perdagangan industri.

Setelah satu tahun disepakatinya perdagangan bebas ACFTA ini, neraca perdagangan Indonesia-China menunjukkan nilai surplus bagi China. Namun begitu, Indonesia masih mempunyai peluang untuk surplus asalkan ada upaya-upaya nyata dari pemerintah untuk mendongkrak ekspor barang jadi ke China.

Duta Besar Republik Indonesia untuk China Imron Cotan mengatakan, walaupun Indonesia mengalami defisit, tapi peluang untuk surplus masih ada, mengingat pasar di China sangat besar. ”Selama ini ekspor yang kita lakukan ke China masih berupa energi dan minyak serta bahan baku. Belum banyak produk yang kita bisa ekspor ke China, terutama hasil perkebunan dan buah-buahan, karena mereka miskin akan sumber daya alam,” kata Imron di Beijing, Kamis (13/1/2011).

Hingga akhir 2010, tercatat neraca perdagangan Indonesia-China berada dalam posisi 49,2 miliar dollar AS dan 52 miliar dollar AS. Artinya, barang Indonesia yang diekspor ke China nilainya 49,2 miliar dollar AS, sedangkan barang China yang diekspor ke Indonesia nilainya 52 miliar dollar AS. Neraca perdagangan Indonesia defisit sekitar 2,8 miliar dollar AS. Namun, Imron menambahkan, neraca ini berdasarkan catatan China.

Sedangkan menurut catatan Indonesia, defisit yang dialami Indonesia sebenarnya sekitar 5 miliar-7 miliar dollar AS. ”Perhitungan di Indonesia hanya mencatat FOB, harga barang saja. Sedangkan China juga menghitung ongkos kirim dan asuransi. Tidak ada yang salah dengan perhitungan ini karena kita hanya menjual barang tanpa mau mengurus ongkos kirim hingga barang selamat sampai di tempat. China mendapatkan keuntungan lebih dari ongkos kirim ini,” papar Imron.

Imron menjelaskan, ketika ACFTA ini belum dijalankan, posisi neraca perdagangan Indonesia-China adalah surplus untuk Indonesia. Namun, nilai transaksinya masih sangat kecil. Pada 2009, impor China dari Indonesia sebesar 17,1 miliar dollar AS, sedangkan impor Indonesia dari China sebesar 13 miliar dollar AS. Jika dilihat dari nilai, setelah ACFTA nilai transaksi justru melambung secara signifikan.

Walaupun secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit, tetapi di empat provinsi yang menjadi pusat perdagangan, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Keempat provinsi itu adalah Guangdong, Fujian, Guangxi, dan Hainan. Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk China Edi Yusuf mengatakan, nilai neraca perdagangan Indonesia dengan keempat provinsi China itu pada 2010 mengalami peningkatan yang cukup tajam.

Jika pada tahun 2009 nilai ekspor China (empat provinsi) ke Indonesia mencapai 3,36 miliar dollar AS, pada tahun 2010 meningkat menjadi 6,13 miliar dollar AS. Sementara untuk nilai impor China dari Indonesia pada tahun 2009 mencapai 4,3 miliar dollar AS, dan pada tahun 2010 mencapai 6,86 miliar dollar AS.

Barang-barang yang diimpor dari China sebagian besar berupa perkakas listrik, mesin, produk besi baja, tekstil, keramik, plastik, makanan olahan, garmen, kerajinan tangan, pupuk, aluminium, produk makanan dan minuman, serta produk laut.Sedangkan produk yang ekspor dari Indonesia ke China adalah minyak bumi, mesin listrik, minyak makan, kertas, kayu, karet, bijih besi, dan tin.

”Potensi investasi yang bisa dikembangkan oleh Indonesia adalah pembangunan infrastruktur, manufaktur bahan baku industri unggulan, pengolahan sumber daya alam, dan sebagainya,” kata Edi.
Sedangkan Duta Besar Imron mengatakan, potensi Indonesia masih besar karena banyak produk Indonesia yang masuk ke China lewat negara lain, misalnya manggis. ”Produk terbesar manggis ada di Indonesia. Tetapi, mengapa China mengimpor manggis dari negara lain. Itu manggis Indonesia,” kata Imron.

Potensi lain yang menjanjikan adalah kopi. Saat ini kopi baru dikenal di China. Sebelumnya mereka tidak mengenal kopi. Tetapi karena di China banyak orang asing, dan banyak orang China yang pernah tinggal dan sekolah di luar negeri, maka budaya minum kopi makin lama makin dikenal di China. Kebutuhan akan kopi pun mulai meningkat. Apalagi kini mulai banyak ditemui kedai-kedai kopi dengan sasaran remaja dan profesional muda. (ARN)




Pandangan saya terhadap persaingan perdagangan indonesia dan china 2014 :

Saya kurang setuju dengan adanya perdagangan bebas Indonesia - China  ACFTA di tahun 2014, karena beberapa alasan :
1. Indonesia bisa mengalami kerugian yang semakin sedikit dari tahun ke tahun. Terbukti dari kasus diatas bahwa bangsa china yang mempergunakan barang impor dari Indonesia hanya dibayarkan sangat sedikit sekali.
2. Padahal negeri china memiliki Negara yang luas dan jumlah penduduknya banyak tetapi  telah memberikan dampak negative seperti  memasukkan produk asing mulai dari pangan, sandang, dan papan  sehingga menghancurkan perekonomian Indonesia.
3. Negara china memanfaatkan banyak kekayaan alam Indonesia sehingga bahan baku alam Indonesia sering disedot oleh bangsa china
4. bahan yang dimiliki Indonesia seperti untuk pembangunan infrastruktur, bahan baku infrastruktur unggulan justru di impor ke china yang jelas – jelas sangat dibutuhkan Indonesia.
5. Dampak positif dari persaingan perdagangan bebas ini, kita dapat belajar tentang kecanggihan teknologi buatan china. Kita bisa mengambil informasi dari Negara maju, seperti tidak malas bekerja, sering membaca buku atau melihat semangat orang – orang china selain itu terbukanya peluang perekonomian Indonesia ke china , karena Negara tersebut sangat luas sehingga dapat meningkatkan kegiatan industry di Indonesia.
 Sedangkan dampak negatifnya di Indonesia produk hasil olahannya hanya kuat di bidang pertanian saja seperti minyak kelapa sawit karet, kokoa, dan karet. Sedangkan di Negara china, produknya unggul dalam berbagai bidang seperti mainan anak, pakaian, teknologi. Dalam hal ini Indonesia sangat mambutuhkan barang dagangan dari china.

Sikap saya mengenai perdagangan bebas tersebut, pemerintah harus memperbaiki infrastruktur, mensosialisasikan produk dalam negeri,dan mencintai produk sendiri seperti dalam pasal 33 ayat 3 yaitu
Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.” Sehingga perekonomian Indonesia bisa terjaga dari persaingan dagang bebas dengan china tersebut

Untuk mengantisipasi hal perdagangan bebas ada beberapa hal yang harus dilakukan antara lain :
·         Indonesia harus memproduksi suatu barang yang tidak diciptakan oleh Negara china. Hal ini disebut dengan kebijakan perdagangan yang saling melengkapi.
·         Meningkatkan daya saing, pengamanan dalam negeri dan penguatan ekspor
·         Pembenahan infrastrukstur dan energy
·         Memperluas pembiayaan dan pengurangan biaya bunga,
·         Pembenahan sistem logistic, pelayanan public, dan penyederhanaan peraturan dan meningkatkan kapasitas kerja.


Kesimpulan  :
 Bahwa perekonomian Indonesia masih harus dibenahi dari persaingan bebas dengan Negara china . Negara kita harus berpegang teguh pada uud 1945 dan peraturan Negara yang sudah didirikan. Perekonomian Indonesia juga harus dilindungi setiap rakyatnya serta pemerintah dan bagian – bagian lainnya.

Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/02/1153057/Perdagangan.Indonesia-China
http://destyapurwaningtyas.blogspot.com/2010/03/strategi-menghadapi-perdagangan.html

No comments:

Post a Comment